Di dalam kehidupan rumah tangga, cinta bukan lagi sesuatu yang hadir karena pandangan pertama. Cinta bukan lagi sesuatu yang hadir karena sesuatu yang menarik kita untuk mendekat pada seseorang yang belum kita kenal.
Cinta adalah hasil perjuangan, ikhtiar untuk terus menerus menumbuhkan dan menyuburkannya dalam kehidupan rumah tangga.
Di dalam rumah tangga, kita membangun cinta. Maka, menikahi orang yang kita cintai itu hanya kemungkinan. Tapi mencintai orang yang kita nikahi itu adalah sebuah tugas kewajiban yang berpahala besar di sisi Allah سبحانه وتعالى.
Cinta itu bisa dihadirkan dengan perhatian. Cinta itu bisa dihadirkan dengan berbagai ikhtiar kita untuk menjadikan komitmen kepada Allah sebagai yang terutama, yakni bahwa kita akan sama-sama mencintai untuk menuju surga Allah سبحانه وتعالى.
Di kutip dari : salimafillah.com
Selasa, 24 Oktober 2017
Kamis, 15 Juni 2017
Jatuh Cinta
Jatuh cinta bukan tentang ketangguhan tapi tentang kesabaran
Jatuh cinta bukan tentang memanjat tebing-tebing curam
namun mengayuh perlahan, sebab perjalanannya akan seumur hidup
Ketika aku ingin mecintaimu, aku tidak ingin memburumu
Sebab jika kamu buruan, kamu akan terbunuh di ujung anak panahku
Sebab.. jika kamu buruan, kamu hanya akan sekedar ku taklukan
Kamu bukan mahkota di puncak gunung, yang harus ku perjuangkan setengah mati
dan setelah kuraih dan kuangkat tinggi, aku akan mencari mahkota baru yang lebih tinggi, lebih menguji
Pada waktunya cinta kita tidak akan lagi serupa api, yang membara dan bergelora
namun menjadi setenang air mengalir, yang menumbuhkan dan menghidupkan
Cinta adalah akar-akar yang tumbuh perlahan,
jalin menjalin lalu jadi tidak tergoyahkan
Cinta memang menerima kekurangan, namun tidak membiarkan kebodohan
Ketika jatuh cinta tidak perlu berlari, mari berjalan perlahan bersisian
Lihatlah sekitaran
dan biarlah cinta tumbuh bersama apapun, yang ditumbuhkan Tuhan
#setjangkirkopi
Jatuh cinta bukan tentang memanjat tebing-tebing curam
namun mengayuh perlahan, sebab perjalanannya akan seumur hidup
Ketika aku ingin mecintaimu, aku tidak ingin memburumu
Sebab jika kamu buruan, kamu akan terbunuh di ujung anak panahku
Sebab.. jika kamu buruan, kamu hanya akan sekedar ku taklukan
Kamu bukan mahkota di puncak gunung, yang harus ku perjuangkan setengah mati
dan setelah kuraih dan kuangkat tinggi, aku akan mencari mahkota baru yang lebih tinggi, lebih menguji
Pada waktunya cinta kita tidak akan lagi serupa api, yang membara dan bergelora
namun menjadi setenang air mengalir, yang menumbuhkan dan menghidupkan
Cinta adalah akar-akar yang tumbuh perlahan,
jalin menjalin lalu jadi tidak tergoyahkan
Cinta memang menerima kekurangan, namun tidak membiarkan kebodohan
Ketika jatuh cinta tidak perlu berlari, mari berjalan perlahan bersisian
Lihatlah sekitaran
dan biarlah cinta tumbuh bersama apapun, yang ditumbuhkan Tuhan
#setjangkirkopi
Senin, 31 Maret 2014
Sepatu Kulit Sang Raja
Alkisah, hiduplah seorang Raja yang sangat berkuasa.
Negerinya luas, meliputi segenap gunung dan lembah. Rakyatnya banyak,
hingga sampai ke ujung pantai dan dalamnya hutan.
Sang
Raja pun sangat perhatian dengan rakyatnya. Hingga, ia sering
berkeliling, dan melakukan pengecekan di setiap wilayah kekuasaannya.
Ia ingin lebih dekat dengan rakyatnya dan mengetahui apa yang dirasakan
mereka.
Saat Sang Raja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan
rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter
berjalan di luar istana kakinya terluka karena terantuk batu. Ia
berpikir, “Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali. Aku harus
memperbaikinya.”
Lalu Sang Raja memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi
seluruh jalan-jalan di negerinya dengan permadani dan kulit sapi terbaik. Segera
saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka
mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri.
Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang pertapa menghadap Sang Raja. Ia berkata pada Maharaja, “Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja.”
Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang pertapa menghadap Sang Raja. Ia berkata pada Maharaja, “Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja.”
Renungan:
“Sahabat, ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala kita hanya harus mengubah cara pandang kita, hati kita dan diri kita sendiri. Bukan dengan ingin mengubah dunia atau bahkan malah menyesali takdir yg telah terjadi.
Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia, kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang terlibat di sana.
“Sahabat, ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala kita hanya harus mengubah cara pandang kita, hati kita dan diri kita sendiri. Bukan dengan ingin mengubah dunia atau bahkan malah menyesali takdir yg telah terjadi.
Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia, kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang terlibat di sana.
Padahal, Allah Yang Maha Adil dan Bijaksana menciptakan dunia ini dengan segala keragaman sifat dan keadaannya. Bukan untuk mempersulit manusia, tapi sebaliknya dengan ini manusia bisa belajar dari perbedaan satu dengan yang lain.
Memang, jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakah yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit? atau cukup hati kita yang dilapisi, agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan itu?”
~Dikutip dari berbagai sumber, googling aja :)
Jumat, 13 September 2013
Cara Mengganti Nada Dering di Windows Phone 8
Cara
Mengganti Nada Dering di Windows Phone 8 - Kurang lebih tiga bulan ini saya beralih dari Android ke Windows Phone 8 yaitu dengan gadget Nokia Lumia 520. Semuanya baik-baik saja hingga
suatu ketika saya mulai bosan dengan nada dering yang itu-itu saja. Kemudian setelah saya otak-atik celakanya saya tidak bisa menemukan fitur untuk mengganti nada dering
lewat ponsel dengan mudah. Penasaran dengan itu, akhirnya saya buka situs nokia.com dan
windowsphone.com disana saya menemukan jawaban atas segala rasa gundah gulana
saya selama ini.
Tetapi jawaban itu belum membuat saya sukses
mengganti nada dering di ponsel saya. Akhirnya saya browsing dan ikut forum sambil terus otak-atik sendiri hingga saya menemukan jawaban sendiri. Nah
bagaimana sih cara menambahkan nada dering ke ponsel Windows Phone 8? Mudah kok
caranya :
- Persiapkan nada dering yang akan anda tambahkan (format .MP3)
- Tancapkan ponsel anda ke komputer menggunakan kabel USB
- Setelah proses selesai, copy file yang akan anda pindah
- Lalu paste-kan kedalam folder ringtone/nada dering yang ada pada disc Phone (lihat gambar)
NB :
- Lagu yang akan anda gunakan sebagai nada dering bukan lagu yang dilindungi dengan manajemen hak digital (DRM), dan harus lebih kecil dari 30 MB.
- Sistem Operasi PC yang Anda gunakan untuk proses penambahan lagu harus Windows Vista, Windows 7 atau Windows 8.
Demikian, semoga bermanfaat. :D
Jumat, 23 Agustus 2013
Kisah Penyelam Mutiara
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan
dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan
bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta
dan anak, seprti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemuadian hancur. Dan
di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS.
Al Hadid : 20)
Ayat diatas
merupakan Maklumat dari Allah kepada manusia agar tidak terlena dan terbuai dengan
kenikmatan dunia yang hanya sementara.
Memang, pada
hakikatnya manusia menginginkan kehidupan yang serba tercukupi, punya rumah
mewah, mobil mewah, harta berlimpah dan anak yang elok rupanya. Namun,
kadangkala untuk mencapai tujuan sesaat itu mereka menggunakan segala cara, tidak
peduli halal atau haramkah, tidak kenal mana kawan atau lawan bahkan
menghabiskan sisa umur yang sejatinya semakin berkurang hanya untuk memenuhi
keinginan yang sesaat.
Perjalanan
hidup manusia tak ubahnya bagaikan kisah penyelam mutiara, yang dalam setiap
tugasnya selalu dibekali dengan tabung oksigen yang terpasang dipunggungnya. Pada
saat terjun menyelam, niatnya bulat ingin mencari tiram mutiara sebanyak-banyaknya,
akan tetapi begitu ia berada di bawah permukaan laut, ia mulai lupa pada tujuan
yang harus dicarinya. Kenapa?
Ternyata pemandangan
di dalam laut sangat mempesona, bunga karang yang melambai-lambai seolah-olah
memanggilnya, ikan-ikan hias berwarna-warni yang saling berkejaran dengan
riangnya seolah mengajaknya bermain, hingga membuatnya terpana dan akhirnya
membuat terlena ikut bercanda ria, melupakan tugasnya semula untuk mencari
tiram mutiara yang berada jauh di dasar laut sana.
Hingga pada
suatu saat, ia terkejut manakala disadarinya persediaan oksigennya tinggal
sedikit. Timbullah rasa panik dan ketakutan yang begitu dahsyat, tak
terbayangkan olehnya bagaimana kemarahan majikannya kelak bila ia muncul ke
permukaan tanpa membawa tiram mutiara sebanyak yang diharapkan. Maka dengan
tergopoh-gopoh ia pun berusaha untuk mencari tiram yang ada di sekitarnya. Namun
sayang, kekuatan fisiknya sudah melemah, energinya sudah habis terkuras untuk
bermain dan bercanda ria dengan keindahan alam bawah laut.
Akhirnya isi
tabung oksigennya benar-benar kosong, sehingga walaupun tiram mutiara yang
diperolehnya sangat sedikit, ia mau tidak mau harus muncul ke permukaan. Malangnya
lagi karena tergesa-gesa ia tidak sempat mengikat kantongnya dengan baik
sehingga ketika kantongnya tersenggol ikan yang berseliweran di sampingnya, tiram
mutiara yang sudah didapatnya dengan susah payah itu sebagian tumpah keluar.
Di permukaan,
majikannya telah menunggu, bagaimana jadinya nanti begitu dilihatnya isi
kantong si penyelam tidak berisi tiram mutiara sebagaimana yang ia harapkan??
Dengan penuh
rasa penyesalan, si penyelam berusaha meminta kesempatan ulang untuk menyelam
kembali,
“Tuan..
ijinkanlah aku untuk kembali menyelam, pasti aku akn mencari tiram mutiara
sebanyak-banyaknya.”
Namun,
majikannya dengan tegas menolaknya.
Kisah ini
menggambarkan tentang perjalanan hidup manusia. Tabung oksigen adalah
perlambangan jatah umur manusia, tiram mutiara mengibaratkan amal ibadah yang
harus kita kumpulkan sedang keindahan di dalam lautan melambangkan godaan –godaan
kenikmatan dunia dengan harta, tahta dan wanita.
Sesuai dengan
ayat dalam Al Quranul Karim, surah Ali Imran ayat ke 14 yang berbunyi,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta
yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah
ladang. Itulh kesenangan hidup di dunia , dan di sisi Allah-lah tempat kembali
yang baik(surga).”
Belajar dari
kisah di atas mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah bahwa di dunia ini
bukanlah tujuan atau kehidupan yang sebenarnya tapi dunia ini adalah awal dari
khidupan yang sebenarnya. Oleh karena itu manfaatnlahpotensi yang ada pada diri
untuk beribadah kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar kelak kita bisa merasakan
kenikmatan yang abadidari hasil jerih payah yang kita lakukan di dunia.
Rasulullah
Salallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Pergunakanlah lima macam waktu, sebelum
datang yang lima macam lagi. Pergunakanlah hidupmu sebelum datang matimu,
sehatmu sebelum datang sakitmu, waktu senggangmu sebelum datang kesibukanmu,
masa mudamu sebelum datang masa tuamu dan kayamu sebelum datang miskinmu.” (HR.
Baihaqi dari Ibnu Abbas)
Marilah kita
pergunakan lima perkara tersebut selagi Allah masi mempercayakan nya kepada
kita agar tidak ada penyesalan dikemudian hari dan janganlah kita seperti
orang-orang munafik ketika datang kematian kepada salah seorang diantara mereka
, lalu ia berkata :
Ya Rabb-ku,
mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat, yang
menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”
Oleh karena
itu marilah kita introspeksi diri, sudah ukupkah tiram mutiara (pahala.red)
yang kita peroleh selama ini sehingga bila suatu saat kita harus muncul ke
permukaan menemui Rabb kita Allah Subhanahu wa Ta’ala, Ia telah ridha kepada
kita sehingga tidak ada lagi penyesalan di dalamnya.
Mudah-mudahan
kita menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa pandai menggunakan segala
anugerahNya dengan selalu peduli dan ingin berbagi sesamanya.
Wallahua’alam
Bishawab..
Langganan:
Postingan (Atom)





