Selasa, 24 Oktober 2017

Cinta itu Diupayakan

Di dalam kehidupan rumah tangga, cinta bukan lagi sesuatu yang hadir karena pandangan pertama. Cinta bukan lagi sesuatu yang hadir karena sesuatu yang menarik kita untuk mendekat pada seseorang yang belum kita kenal.

Cinta adalah hasil perjuangan, ikhtiar untuk terus menerus menumbuhkan dan menyuburkannya dalam kehidupan rumah tangga.

Di dalam rumah tangga, kita membangun cinta. Maka, menikahi orang yang kita cintai itu hanya kemungkinan. Tapi mencintai orang yang kita nikahi itu adalah sebuah tugas kewajiban yang berpahala besar di sisi Allah سبحانه وتعالى.

Cinta itu bisa dihadirkan dengan perhatian. Cinta itu bisa dihadirkan dengan berbagai ikhtiar kita untuk menjadikan komitmen kepada Allah sebagai yang terutama, yakni bahwa kita akan sama-sama mencintai untuk menuju surga Allah سبحانه وتعالى.

Di kutip dari : salimafillah.com

Kamis, 15 Juni 2017

Jatuh Cinta

Jatuh cinta bukan tentang ketangguhan tapi tentang kesabaran
Jatuh cinta bukan tentang memanjat tebing-tebing curam
namun mengayuh perlahan, sebab perjalanannya akan seumur hidup
Ketika aku ingin mecintaimu, aku tidak ingin memburumu
Sebab jika kamu buruan, kamu akan terbunuh di ujung anak panahku
Sebab.. jika kamu buruan, kamu hanya akan sekedar ku taklukan

Kamu bukan mahkota di puncak gunung, yang harus ku perjuangkan setengah mati
dan setelah kuraih dan kuangkat tinggi, aku akan mencari mahkota baru yang lebih tinggi, lebih menguji

Pada waktunya cinta kita tidak akan lagi serupa api, yang membara dan bergelora
namun menjadi setenang air mengalir, yang menumbuhkan dan menghidupkan
Cinta adalah akar-akar yang tumbuh perlahan,
jalin menjalin lalu jadi tidak tergoyahkan
Cinta memang menerima kekurangan, namun tidak membiarkan kebodohan

Ketika jatuh cinta tidak perlu berlari, mari berjalan perlahan bersisian
Lihatlah sekitaran
dan biarlah cinta tumbuh bersama apapun, yang ditumbuhkan Tuhan


#setjangkirkopi

Senin, 31 Maret 2014

Sepatu Kulit Sang Raja

Alkisah, hiduplah seorang Raja yang sangat berkuasa. Negerinya luas, meliputi segenap gunung dan lembah. Rakyatnya banyak, hingga sampai ke ujung pantai dan dalamnya hutan.

Sang Raja pun sangat perhatian dengan rakyatnya. Hingga, ia sering berkeliling, dan melakukan pengecekan di setiap wilayah kekuasaannya. Ia ingin lebih dekat dengan rakyatnya dan mengetahui apa yang dirasakan mereka.

Saat Sang Raja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana kakinya terluka karena terantuk batu. Ia berpikir, “Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali. Aku harus memperbaikinya.”

Lalu Sang Raja memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan permadani dan kulit sapi terbaik. Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri.

Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang pertapa menghadap Sang Raja. Ia berkata pada Maharaja, “Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja.


Renungan: 
Sahabat, ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala kita hanya harus mengubah cara pandang kita, hati kita dan diri kita sendiri. Bukan dengan ingin mengubah dunia atau bahkan malah menyesali takdir yg telah terjadi.

Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia, kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang terlibat di sana.

Padahal, Allah Yang Maha Adil dan Bijaksana menciptakan dunia ini dengan segala keragaman sifat dan keadaannya. Bukan untuk mempersulit manusia, tapi sebaliknya dengan ini manusia bisa belajar dari perbedaan satu dengan yang lain.

Memang, jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakah yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit
? atau cukup hati kita yang dilapisi, agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan itu?”

~Dikutip dari berbagai sumber, googling aja :)

Jumat, 13 September 2013

Cara Mengganti Nada Dering di Windows Phone 8



Cara Mengganti Nada Dering di Windows Phone 8 - Kurang lebih tiga bulan ini saya beralih dari Android ke Windows Phone 8 yaitu dengan gadget Nokia Lumia 520. Semuanya baik-baik saja hingga suatu ketika saya mulai bosan dengan nada dering yang itu-itu saja. Kemudian setelah saya otak-atik celakanya saya tidak bisa menemukan fitur untuk mengganti nada dering lewat ponsel dengan mudah. Penasaran dengan itu, akhirnya saya buka situs nokia.com dan windowsphone.com disana saya menemukan jawaban atas segala rasa gundah gulana saya selama ini.
Tetapi jawaban itu belum membuat saya sukses mengganti nada dering di ponsel saya. Akhirnya saya browsing dan ikut forum sambil terus otak-atik sendiri hingga saya menemukan jawaban sendiri. Nah bagaimana sih cara menambahkan nada dering ke ponsel Windows Phone 8? Mudah kok caranya :
  1. Persiapkan nada dering yang akan anda tambahkan (format .MP3)
  2. Tancapkan ponsel anda ke komputer menggunakan kabel USB
  3. Setelah proses selesai, copy file yang akan anda pindah
  4. Lalu paste-kan kedalam folder ringtone/nada dering yang ada pada disc Phone (lihat gambar)
NB :
  • Lagu yang akan anda gunakan sebagai nada dering bukan lagu yang dilindungi dengan manajemen hak digital (DRM), dan harus lebih kecil dari 30 MB.
  • Sistem Operasi PC yang Anda gunakan untuk proses penambahan lagu harus Windows Vista, Windows 7 atau Windows 8.
 

Proses selesai, silahkan menuju Settings > ringtones+sounds > ringtone . Maka di kolom custom akan ada nada dering yang ada tambahkan.


Demikian, semoga bermanfaat. :D

 

Jumat, 23 Agustus 2013

Kisah Penyelam Mutiara






“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seprti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemuadian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid : 20)

Ayat diatas merupakan Maklumat dari Allah kepada manusia agar tidak terlena dan terbuai dengan kenikmatan dunia yang hanya sementara.

Memang, pada hakikatnya manusia menginginkan kehidupan yang serba tercukupi, punya rumah mewah, mobil mewah, harta berlimpah dan anak yang elok rupanya. Namun, kadangkala untuk mencapai tujuan sesaat itu mereka menggunakan segala cara, tidak peduli halal atau haramkah, tidak kenal mana kawan atau lawan bahkan menghabiskan sisa umur yang sejatinya semakin berkurang hanya untuk memenuhi keinginan yang sesaat.

Perjalanan hidup manusia tak ubahnya bagaikan kisah penyelam mutiara, yang dalam setiap tugasnya selalu dibekali dengan tabung oksigen yang terpasang dipunggungnya. Pada saat terjun menyelam, niatnya bulat ingin mencari tiram mutiara sebanyak-banyaknya, akan tetapi begitu ia berada di bawah permukaan laut, ia mulai lupa pada tujuan yang harus dicarinya. Kenapa?

Ternyata pemandangan di dalam laut sangat mempesona, bunga karang yang melambai-lambai seolah-olah memanggilnya, ikan-ikan hias berwarna-warni yang saling berkejaran dengan riangnya seolah mengajaknya bermain, hingga membuatnya terpana dan akhirnya membuat terlena ikut bercanda ria, melupakan tugasnya semula untuk mencari tiram mutiara yang berada jauh di dasar laut sana.

Hingga pada suatu saat, ia terkejut manakala disadarinya persediaan oksigennya tinggal sedikit. Timbullah rasa panik dan ketakutan yang begitu dahsyat, tak terbayangkan olehnya bagaimana kemarahan majikannya kelak bila ia muncul ke permukaan tanpa membawa tiram mutiara sebanyak yang diharapkan. Maka dengan tergopoh-gopoh ia pun berusaha untuk mencari tiram yang ada di sekitarnya. Namun sayang, kekuatan fisiknya sudah melemah, energinya sudah habis terkuras untuk bermain dan bercanda ria dengan keindahan alam bawah laut.

Akhirnya isi tabung oksigennya benar-benar kosong, sehingga walaupun tiram mutiara yang diperolehnya sangat sedikit, ia mau tidak mau harus muncul ke permukaan. Malangnya lagi karena tergesa-gesa ia tidak sempat mengikat kantongnya dengan baik sehingga ketika kantongnya tersenggol ikan yang berseliweran di sampingnya, tiram mutiara yang sudah didapatnya dengan susah payah itu sebagian tumpah keluar.

Di permukaan, majikannya telah menunggu, bagaimana jadinya nanti begitu dilihatnya isi kantong si penyelam tidak berisi tiram mutiara sebagaimana yang ia harapkan??

Dengan penuh rasa penyesalan, si penyelam berusaha meminta kesempatan ulang untuk menyelam kembali,
“Tuan.. ijinkanlah aku untuk kembali menyelam, pasti aku akn mencari tiram mutiara sebanyak-banyaknya.”
Namun, majikannya dengan tegas menolaknya.

Kisah ini menggambarkan tentang perjalanan hidup manusia. Tabung oksigen adalah perlambangan jatah umur manusia, tiram mutiara mengibaratkan amal ibadah yang harus kita kumpulkan sedang keindahan di dalam lautan melambangkan godaan –godaan kenikmatan dunia dengan harta, tahta dan wanita.

Sesuai dengan ayat dalam Al Quranul Karim, surah Ali Imran ayat ke 14 yang berbunyi,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulh kesenangan hidup di dunia , dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik(surga).”

Belajar dari kisah di atas mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah bahwa di dunia ini bukanlah tujuan atau kehidupan yang sebenarnya tapi dunia ini adalah awal dari khidupan yang sebenarnya. Oleh karena itu manfaatnlahpotensi yang ada pada diri untuk beribadah kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar kelak kita bisa merasakan kenikmatan yang abadidari hasil jerih payah yang kita lakukan di dunia.

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Pergunakanlah lima macam waktu, sebelum datang yang lima macam lagi. Pergunakanlah hidupmu sebelum datang matimu, sehatmu sebelum datang sakitmu, waktu senggangmu sebelum datang kesibukanmu, masa mudamu sebelum datang masa tuamu dan kayamu sebelum datang miskinmu.” (HR. Baihaqi dari Ibnu Abbas)

Marilah kita pergunakan lima perkara tersebut selagi Allah masi mempercayakan nya kepada kita agar tidak ada penyesalan dikemudian hari dan janganlah kita seperti orang-orang munafik ketika datang kematian kepada salah seorang diantara mereka , lalu ia berkata :
Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

Oleh karena itu marilah kita introspeksi diri, sudah ukupkah tiram mutiara (pahala.red) yang kita peroleh selama ini sehingga bila suatu saat kita harus muncul ke permukaan menemui Rabb kita Allah Subhanahu wa Ta’ala, Ia telah ridha kepada kita sehingga tidak ada lagi penyesalan di dalamnya.

Mudah-mudahan kita menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa pandai menggunakan segala anugerahNya dengan selalu peduli dan ingin berbagi sesamanya.

Wallahua’alam Bishawab..